Contoh Resensi Novel Fiksi

Resensi novel – Novel merupakah salah satu karya tulis yang beirisi cerita fiktif dan ditulis secara naratif. Novel sangat berbeda dengan cerpen terutama lebih panjang dan jauh lebih kompleks.

Untuk memahami isi cerita dari sebuah novel dibutuhkan konsentrasi dan fokus. Terlebih jika Anda ingin membuat resensi dari sebuah novel. Resensi novel berisi ulasan yang informatif dan juga dapat disertai dengan kritikan. Untuk membuat resensi diperlukan pemikiran yang benar-benar kritis.

Contoh resensi novel

Berikut adalah contoh resensi novel yang berjudul “The Ghost Writer”.

Sinopsis :

thAdam Lang, mantan perdana menteri Inggris, menghadapi tuduhan kejahatan perang. Seorang penulis bayangan direkrut untuk membantunya menuliskan autobiografi yang menjadi satu-satunya cara membela diri di depan mata dunia.

Hanya saja, ketika sang “hantu” alias penulis bayangan mulai bekerja, dia menemukan terlalu banyak hal yang tidak sesuai : tentang awal karier politik Adam lang, tentang kebijakan-kebijakan politiknya, tentang keterlibatan CIA.

Dan yang paling mengancam nyawanya : kematian tak wajar McAra, ajudan politik Adam Lang yang awalnya membantu penulisan memoar sang PM, yang melakukan riset menyeluruh terhadap masa lalunya, ditemukan tewas di pantai sunyi Martha’s Vineyard. Barangkali McAra mengetahui terlalu banyak rahasia-rahasia yang membawa kematiannya.

………………

Beberapa novel karya penulis pria belum berhasil saya tuntaskan dalam beberapa kesempatan terakhir ini. Selain penuturan yang monoton, terkadang lebih mirip cerita non fiksi, dan sebab lain adalah karena tema yang tergolong berat dan kurang relate dengan pembaca awam seperti saya.

Namun, membaca novel yang telah dibuat versi filmnya ini, memberikan saya sebuah pengalaman yang tidak sama. Pertama adalah mampu menarik perhatian saya untuk tak melepaskan membacanya adalah pada kekuatan deskripsinya dan bagaimana penulis mengembangkan analogi secara detail untuk mendukung deskripsi ini. Sesuatu yang belakangan jarang saya temui dalam novel terjemahan karya penulis pria.

Hal lain yang tak kalah menarik adalah penguasaan penulis terhadap tema yang diangkat dan kemampuannya untuk mengungkapkan secara detail pada novel ini. Lika-liku pekerjaan seorang penulis bayangan profesional tereksplorasi secara runut dan gamblang, ditunjang oleh pengalaman penulisnya Robert Harris yang juga mantan seorang editor politik dan bekerja sebagai kolumnis, serta riset yang maksimal tentu saja, membuat perjalanan sang tokoh cerita saat menulis memoar berlatar intrik politik dalam novel ini terasa lebih meyakinkan.

Namun, sedikit disayangkan bahwa alur pergerakan novel ini sangat lambat. Padahal, pada bab awal novel, sisi suspense mulai dibangun dan sempat membangkitkan harapan saya akan plot yang mencekam lewat adegan pencurian manuskrip dan penyerangan terhadap sang penulis bayangan. Tetapi, harapan ini terpaksa saya tunda dan harus menambah ekstra kesabaran untuk mengikuti alur kisah yang kian melambat dan terasa monoton dengan adegan-adegan wawancara antara si penulis dengan Adam Lang.

Pada pertengahan cerita, keinginan sang penulis bayangan untuk menapaktilasi misteri kematian McAra kembali memberikan harapan untuk alur cerita yang lebih menegangkan, namun harapan ini lagi-lagi membeku oleh uluran deskripsi yang terlalu panjang dan tak jarang memuat banyak information dump.

Sisi suspense cerita ini baru muncul setelah memasuki halaman 215 saat sang penulis bayangan mencoba mengendus peran dan keterlibatan seorang pria yang kerap muncul dalam foto-foto masa lalu Lang. Dan boleh dibilang, pada lembar-lembar yang bergerak setelah ini hingga akhir, cerita ini barulah mencapai klimaksnya. Itu pun, tetap dengan konsistensi pada gaya penuturan yang detail, lambat dan panjang, sehingga bagi pembaca yang mungkin telah kehilangan kesabaran dan rasa penasaran untuk segera menuntaskannya, tak akan merasakan greget yang benar-benar “wow” saat kisah ini berakhir.

Terlepas dari alur yang lambat dan sangat menguji kesabaran tersebut, kisah dalam novel ini sangat bagus, sangat detail dalam memberikan informasi tentang pekerjaan seorang penulis bayangan dan intrik politik yang melibatkan CIA. Dari beberapa sumber, novel ini boleh dibilang terinspirasi dari kisah PM Inggris Tony Blair yang pada akhir karirnya diketahui tak ubahnya “boneka” Amerika Serikat, lalu beliau menerbitkan memoar dengan muatan yang bertujuan membersihkan reputasinya dari beberapa issu politik yang sempat mengusik kredibilitasnya.

Terakhir, setelah menuntaskan novel ini, saya jadi penasaran dengan versi filmnya yang dibintangi Evan McGregor dan Pierce Brosnan. Sepertinya menjadi lebih menarik setelah saya membaca review filmnya.

Judul : The Ghost Writer
Penulis : Robert Harris
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Maret 2010
Halaman : 320 hal

Demikian contoh resensi novel yang diambil dari riawanielyta.com

Leave a Reply

*